dakwahmahasiswa.or.id

Hendrajit: Konflik Iran-Israel Cerminkan Proyek Lama Hegemoni Barat di Timur Tengah

Dok, Dakwah Mahasiswa

“Palestina adalah proyek awal Inggris yang kemudian dilanjutkan Amerika. Tujuannya menjaga kendali sumber daya, terutama minyak, lewat penciptaan ketegangan yang tak pernah selesai.”

Kabar Timteng, dakwahmahasiswa.or.id – Pengamat geopolitik dari Global Future Institute (GFI) Jakarta, Hendrajit menilai konflik yang kembali memanas antara Iran dan Israel tidak bisa dilepaskan dari mega desain kekuatan Barat yang dirancang sejak berakhirnya Pasca Perang Dunia II pada 1947.

Dalam upayanya  menjaga hegemoni di kawasan Timur Tengah, Israel ditanamkan ke kawasan Timur Tengah untuk memicu instabilitas politik dan keamanan. Caranya? Kolonisasi Palestina dengan mendorong Israel sebagai ujung tombak. 

Dalam wawancara Tim Dakwah Mahasiswa, Selasa (1/7) di Kantor GFI bertempat Jl. Iskandarsyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Hendrajit menekankan bahwa sejak awal abad ke-20, kekuatan kolonial seperti Inggris—dan kemudian Amerika Serikat—secara masif memanfaatkan isu Palestina seakan-akan isu sentral dan akar konflik Timur Tengah adalah Arab versus Israel atau Islam versus Yahudi. 

Padahal bukan itu. Inti konflik Palestina adalah rekolonisasi AS-Inggris di Timur Tengah dengan kedok Pembagian Wilayah Palestina secara tidak adil lewat Perserikatan Bangsa Bangsa.

Dengan itu,  menanam Israel sebagai instrumen guna menciptakan instabilitas politik permanen di kawasan ini, Inggris dan AS berhasil melanggengkan hegemoninya di kawasan  yang kaya minyak tersebut.

“Palestina adalah proyek awal Inggris yang kemudian dilanjutkan Amerika. Tujuannya menjaga kendali sumber daya, terutama minyak, lewat penciptaan ketegangan yang tak pernah selesai,” ujar Direktur Eksekutif GFI tersebut, merujuk pada peristiwa Deklarasi Balfour sebagai janji Inggris kepada kaum zionis Israel yanf kala itu wilayah Palestina masih merupskan daerah  protektorat Inggris atas Palestina pasca Perang Dunia ke-I.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa keberadaan Israel sejak awal bukan hanya proyek nasionalisme Yahudi, melainkan instrumen geopolitik untuk memperpanjang cengkeraman Barat atas Timur Tengah. Jadi Israel ibarat pohon kaktus di tengah lautan pohon pinang. 

“Mereka sadar kemerdekaan negara-negara Asia-Afrika tidak bisa dibendung, jadi alternatifnya adalah menjaga konflik laten di tengah kawasan yang strategis,” jelasnya.

Indonesia Harus Ambil Posisi Strategis

Melihat peta Iran-Israel demikian, terkait posisi Indonesia sendiri, Hendrajit menilai bahwa Istana diharapkan mampu melihat konstelask dari dinamika konflik tersebut secara cermat dan tepat.

Menurutnya, Indonesia harus memandang ketegangan Iran-Israel sebagai momentum untuk memperkuat diplomasi regional dan internasional berbasis prinsip keadilan bagi Palestina.

“Secara historis, posisi Indonesia selalu jelas membela Palestina. Tapi ini juga momentum untuk mengonsolidasikan pengaruh di panggung dunia, bukan sekadar simbolik belaka,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa jika tidak diantisipasi dengan baik, instabilitas Timur Tengah juga dapat membawa dampak negatif ke dalam negeri, mulai dari ketegangan antar kelompok hingga distorsi informasi akibat polarisasi digital.

Kritik terhadap Polarisasi Sikap Umat Muslim

Lebih lanjut, penulis buku ‘Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru’ itu menyampaikan keprihatinannya terhadap sebagian kalangan umat Islam, termasuk aktivis, yang dinilai tidak konsisten dalam menyikapi dinamika konflik Timur Tengah. 

Ia menyinggung sikap sebagian pihak yang mendukung Palestina secara vokal, namun bersikap negatif terhadap Iran—padahal Iran secara nyata memberikan dukungan konkrit terhadap perjuangan Palestina. Bukan saja secara moral dan politik, bahkan secara militer juga. 

“Sangat miris jika ada yang ngotot pro-Palestina, tapi ketika Iran yang dari dulu mendukung Hamas dan Hizbullah, malah dibuat nyinyir, tentu ini kontradiktif,” ungkapnya.

Ia yang juga saat ini telah meluncurkan buku terbarunya berjudul ‘Neo-Kolonialisme AS di Asia, Perspektif Indonesia’, menerangkan bahwa inkonsistensi seperti yang telah diungkap dimuka menandakan kemunduran daya intelektual akibat kultur digital yang serba instan dan pandangan yang serba hitam-putih. 

“Di era digital yang pesat ini, justru terjadi kemiskinan soft power. Kita jadi malas memahami konteks dan sejarah, hanya mau dengar apa yang ingin kita dengar,” katanya.

Terakhir, Hendrajit berpesan pentingnya refleksi masa lalu, bahwa bangsa penjajah seperti Inggris mampu menaklukkan wilayah bukan dengan kekerasan semata, tapi lewat pemahaman mendalam. 

“Orientalis dulu menaklukkan tanah jajahan dengan ilmu, bukan kebencian. Mereka belajar studi ketimuran untuk menaklukkan dengan cara memahami, bukan untuk membumihanguskan,” tutupnya.

(am/dm)

Share :

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *