dakwahmahasiswa.or.id

Membaca Arah Konflik Iran-Israel, Pengamat Hubungan Internasional UNAS Serukan Gerakan ‘International Wake Up Call’

Sumber: Ayo Purwakarta

International Wake Up Call adalah panggilan bagi semua pihak, terutama aktor-aktor non-negara, untuk membangun narasi baru yang berpihak pada kemanusiaan.”

Kabar Timteng, dakwahmahasiswa.or.id – Konflik bersenjata selama 12 hari antara Iran dan Israel menyisakan berbagai pertanyaan dan kekhawatiran atas arah geopolitik global. 

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Nasional (UNAS) Dr. Robi Nurhadi turut menyoroti dinamika konflik tersebut dan menyerukan pentingnya gerakan masyarakat global yang disebutnya sebagai ‘International Wake Up Call’.

Menurut Robi, konflik yang diawali oleh serangan Israel terhadap Iran tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas, terutama terkait stagnasi perundingan nuklir Iran dan safari politik Donald Trump ke Timur Tengah menjelang serangan ke tiga titik situs nuklir Iran.

“Saat Iran menunjukkan kesiapan untuk berunding, justru serangan dilancarkan. Ini tindakan ilegal dan layak diseret ke International Court of Justice,” tegasnya saat ditemui di Kampus UNAS, Jakarta Selatan, Selasa (1/7).

Ia menilai bahwa konflik ini bukan hanya soal sengketa regional, tetapi pertunjukan kekuatan militer dari tiga aktor yang terlibat, yakni Amerika Serikat, Israel, dan Iran. 

“Ini bukan semata perang, tapi seperti panggung besar yang diciptakan, bahkan bisa dikatakan seperti iklan produk persenjataan dari ketiga negara. Sayangnya, nyawa manusia menjadi tak berharga,” ujar jebolan Pusat Studi Sejarah, Politik dan Strategi Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) tersebut.

Robi juga menggarisbawahi bahwa perang ini sarat dengan motif ekonomi dan politik, termasuk potensi skenario pengalihan isu dari dinamika BRICS yang menantang dominasi dolar dan pengaruh Amerika Serikat di panggung global.

“BRICS telah mengganggu posisi hegemonik AS. Maka, muncul asumsi bahwa perang tersebut merupakan panggung percaturan yang baru untuk mempertahankan hegemoninya,” jelasnya.

Pimpinan KP3 MUI Pusat ini meneruskan, salah satu aspek penting lainnya adalah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai manuver strategis dalam menekan pihak Barat. 

Menurutnya, ancaman penutupan jalur laut tersebut bisa memicu krisis suplai energi terutama ke negara-negara Barat. Karena itu, ia yang telah memunculkan tekanan besar kepada para pelaku perang untuk melakukan gencatan senjata.

Dalam konteks politik Timur Tengah, Robi menyoroti bagaimana perang ini justru mengganggu momentum dukungan internasional terhadap Palestina.

“Perhatian dunia yang sebelumnya sedang menguntungkan posisi politik Palestina, menjadi buyar dengan munculnya panggung baru Iran-Israel,” jelasnya.

Robi mengajak negara-negara Islam dan komunitas peduli kemanusiaan untuk tidak larut dalam narasi pertunjukan kekuatan besar yang kerap memanfaatkan konflik untuk kepentingan ekonomi dan kekuasaan. 

“Ini saatnya kita membangun panggung sendiri. Kita tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam drama politik global yang penuh korban,” imbuhnya.

Ia menyerukan pentingnya kebangkitan kekuatan masyarakat sipil internasional.

International Wake Up Call adalah panggilan bagi semua pihak, terutama aktor-aktor non-negara, untuk membangun narasi baru yang berpihak pada kemanusiaan,” kata Robi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kekuatan digital dan teknologi informasi harus dimanfaatkan untuk menyuarakan perdamaian dan menolak perang.

“Kita punya jari, kita punya gadget. Gunakan itu untuk menegaskan bahwa sikap kita sangat menolak peperangan, sikap ini juga sebagai jalan penyelesaian masalah global,” tegasnya.

(am/dm)

Facebook
Twitter
WhatsApp
LinkedIn

Share :

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *